Jumat, 02 Desember 2011

#random 2

Hoshi terduduk di beranda rumahnya, menatap ke halaman villanya yang luas, yang tenang. Selama ini dia menikmatinya, kesunyian yang menenangkan itu. Hanya ada dua pilihan baginya, mendengar ruangan-ruangan lebar yang sunyi, atau teriakan dan amarah saat pertengkaran kedua orang tuanya. Dan Hoshi tentu lebih memilih kesunyian. Tapi sejak kemarin, ketika sesuatu yang asing dilihatnya. Hoshi merasa, dia punya pilihan lain.

“Hoshi...” panggil suara lembut di baliknya, suara yang sangat disayanginya, suara ibunya. Hoshi menoleh, dan melihat wajah ibunya yang di selimuti kekhawatiran. Dengan sedikit canggung wanita muda itu tersenyum, “Kau sudah bangun, sayang... ?”

Hoshi terdiam. Memalingkan pandangannya dari tatapan ibunya.

Hembusan nafas pelan keluar dari wanita muda itu. Beliau berjalan dan duduk di kursi di sebelah Hoshi, dan memandang taman seperti Hoshi. Beliau tidak berusaha melirik anak satu-satunya itu. Anak lelakinya yang baru beumur 7 tahun, tapi harus menanggung semua kesalahan kedua orang tuanya. Harus menerima semuanya.

“Yang kemarin... Maafkan Okaasan... Liburan kita bertiga jadi hancur....”

“Tidak... tidak apa, tidak ada yang salah, Okaasan...” jawab Hoshi. Tidak, tidak ada yang salah. Tidak ada yang salah kalau liburan keluarganya hancur, tidak, tidak ada pula yang menyadari kalau di desa ini akan ada cinta pertama ayah kan? Jadi itu juga tidak patut dipersalahkan. Pertengkaran kedua orang tuanya semalam juga tidak salah, rapat mendadak perusahaan Ayahnya juga tidak salah.

Tidak. Tidak ada yang salah.

Yang salah adalah, kenyataan bahwa Hoshi berharap hubungan kedua orang tuanya akan membaik. Semuanya akan terasa salah kalau ia berharap seperti itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar