“Haaah...” teriak bocah lelaki itu, berjalan gontai sambil menendang bebatuan yang menghalangi jalannya di setapak yang masih berupa tanah itu. Kedua telapak tangannya berlindung di balik saku jaketnya dari udara dingin musim semi yang menusuk. Sekali lagi dia menarik nafas dalam, meninggalkan awan putih tipis di depan hidung pucatnya yang mulai memerah kedinginan, walaupun begitu udara di sana sangat sejuk dan menenangkan. Udara pagi yang tenang dan suara hembusan udara yang menerbangkan dedaunan membuat udara dingin itu terasa menyenangkan.
Samar-samar terdengar suara lain, suara melengking yang lembut, suara tegas yang indah., Hoshi, nama bocah itu, mendongakkan kepalanya dan mencari arah suara, di ujung jalan, di sebuah bangku di bawah pohon apel yang berbuah lebat, seorang anak gadis berambut coklat tua lurus sebahu, sedang memainkan biola, di sebelahnya seorang kakek tua duduk mendengarkan sambil bersenandung.
Setelah permainan selesai, kakek tua itu memberikan sekeranjang apel pada si gadis kecil. Hoshi tidak bisa mendengar percakapan mereka, tapi dia melihat si kakek dan gadis kecil itu tertawa, keakraban yang asing bagi Hoshi. Tiba-tiba gadis itu menoleh, dan memandang Hoshi, Hoshi terpaku, walaupun jauh, dia bisa melihat mata bening violet indah milik gadis itu.
Mata violet bening yang besar dan bulat sempurna, menawan.
Hoshi segera mengalihkan pandangannya secepat mungkin, dan berlari meninggalkan tempat itu segera..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar