"Sebagaimana setiap cerita bermula, selalu ada satu tokoh, entah dia jahat atau baik. Cerita satu ini tanpa judul, dan tak berakhir. Bukan sebuah dongeng, ataupun kisah nyata yang bermakna dan diulang-ulang sebagai pelajaran bagi yang lain.
Tentang seorang anak manusia yang menyebut dirinya sebagai tokoh antagonis, tapi tidak bisa menyembunyikan sikap protagonisnya yang membenci antagonis.
Dia menulis dan melukis. Menyanyi dan menari. Tertawa dan menangis.
Tapi selalu ada sudut kesedihan dalam setiap inchi karyanya. Seakan tak pernah habis kesedihan walaupun dia terus menangis.
Dia terbiasa menyalahkan diri sendiri, karena semua orang tak pernah mau merasa salah. Seakan semua kejanggalan dalam hidupnya selalu berasal darinya.
'Mengapa mereka tidak tertawa?' bisiknya dalam hati, 'Akulah sebabnya..'
'Mengapa mereka bersedih?' isaknya dalam hati, 'Akulah sebabnya..'
'Mengapa mereka tidak bahagia?' tangisnya dalam hati, dan sekali lagi dijawabnya 'Akulah sebabnya...'
Sendiri ataupun beramai-ramaipun tak ada bedanya. Dia tetap sendiri. Perisai hatinya sudah cukup tebal untuk menangkis kebaikan, dan hanya bisa menyerap kesalahan.
Karena memang benar semua kesalahan itu berasal darinya. Dan tak pantas lagi ada kebaikan untuknya. Kejahatan yang dia lakukan sudah begitu besar, hingga tak sanggup lagi untuk termaafkan. Karena memang dia adalah tokoh antagonis itu, yang menyebabkan segalanya.
Beginilah ceritaku.. Yang tidak berakhir. Mengapa kamu masih disini?" Dia memandangku setelah selesai membaca secarik kertas kusut yang tadi dipungutnya di tempat sampah itu.
Kertas yang awalnya putih bersih, yang seharian kupandangi di depan meja belajarku, yang akhirnya kubuang setelah menuliskan kalimat itu. Kertas yang seharusnya kutujukan kepadanya, pemuda yang terus saja mengangguku.
"Kamulah sebabnya..." jawabnya tepat dihadapanku. Matanya memancarkan kejujuran yang membuat hatiku terasa sangat hangat, perasaan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya, "Aku bukan jatuh cinta pada topengmu, si gadis ceria yang baik hati, dan aku juga bukan jatuh cinta pada gadis yang tertulis di kertas ini. Aku jatuh cinta padamu... dan aku memang serakah, aku menginginkanmu, segala sisimu, siapapun kamu. Jadi kamulah sebabnya..."
Saat itu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasakannya. Hal yang mungkin terjadi berulang-ulang pada orang lain tapi hanya sekali padaku.
Cerita itu memang ku tulis tak berakhir. Tapi jika akhir itu ada, aku menginginkannya berakhir disini. Saat aku jatuh cinta padamu. Hoshi Tadase.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar